Dia tersenyum menatapku yang masih mematung di depannya dengan tatapan penuh kebencian.
"Maharani... kau tak makan??" Dia memulai pembicaraan padaku yang masih menampakkan wajah kebencian
Pikiran ku kembali melayang, kenapa dia masih saja memanggilku dengan nama maharani, walaupun tak ada yang salah karena itu juga namaku, tapi sepertinya aku lebih suka dipanggil cinta. Karena nama cinta begitu dalam kesannya. Kesan di cintai, disayangi, dan dihargai oleh semua orang. Seperti impianku untuk selalu bahagia dengan cinta dari orang-orang terdekatku. Raut wajahku seketika berubah ada aura kesedihan yang tersimpan di kedua bola mataku, aku sadar cinta itu begitu sulit aku dapatkan sejak peristiwa itu. Malah mungkin sudah tak mungkin di aku dapatkan lagi.
"Maharani..." Orang yang masih berdiri di depan ku ini kembali membuyarkan pikiranku.
"Tidak... aku mau pulang" Jawabku singkat dengan penuh kebencian dan pergi berlalu meninggalkannya yang masih berdiri disana
Ada raut kekecewaan dari wajahnya, ia ingin berdamai dengan keadaan yang terus saja menghakimi kesalahannya. Ia merasa lelah jika harus terus-terusan dibenci oleh Maharani. Tapi dia memang salah dan menyesal atas kelakuannya yang membuat Maharani terus-terusan tak memaafkannya. Dia menelan kekecewaannya itu dengan melangkahkan kakinya menuju ke kantin. Seolah makanan-makanan itu menjadi pelampiasannya akan kekecewaannya.
....................................................occ..........................................................
Cinta segera melajukan mobilnya pergi meninggalkan kampus menuju kerumahnya. Rumah yang sepi tanpa ada tawa dan canda. Rumah itu hanya ditinggali tiga orang, dia dan dua pembantunya. Dia memasukki rumah itu, rumah yang berdinding warna coklat sesuai dengan kesukaan ibunya. Rumah ini telah banyak mengeluarkan airmata dibanding senyuman batinnya pelan. Rumah yang menemaninya menjalani perjalanan hidup yang tidak mudah.
"Assalamu'alaikum" Salamnya ketika memasuki rumah yang sangat mewah tapi menyimpan segala misteri.
"Wa'alaikumsalam" Jawab kedua pembantunya yang kini tersenyum melihatnya. Mamang dan simbok yang sudah 20 tahun menemaninya. Ia sangat menyayangi kedua orang ini seperti layaknya saudaranya sendiri.
"Non sudah pulang.. Non mau makan apa biar simbok siapin?" Kata simbok sambil mengusap rambunya pelan.
"Apa saja yang simbok masak pasti akan saya makan" Jawabku sambil memajukan bibirku mencium pipi simbok yang sangat aku sayangi ini.
"Baik nona cantik simbok siapkan dulu.. Non cantik ganti baju dulu setelah itu makan" Perintah simbok lembut dan senyum manisnya masih melekat di bibirnya.
Aku hanya menganggukankan kepala seraya tersenyum untuk memastikan bahwa aku menyetujui.
................................................occ..........................................................
Setelah satu minggu aku menunjukkan perubahanku di kampus. Sebagian teman-teman ku mulai menunjukkan wajah biasa seperti saat aku belum berubah. Aku senang akan hal itu berarti mereka sudah bisa menerima perubahanku. Tapi tidak dengan satu orang itu, pria tampan yang selalu membuat tidurku tidak tenang, selalu membuatku gelisah ketika dia tak ada disampingku, selalu membuat aku menangis ketika dia bersama wanita lain, tapi juga membuatku tersenyum bahkan tertawa lepas ketika dia disampingku. Ahhhh... sudah satu minggu dia hanya menatapku dengan tatapan yang aku tak mengerti. Bahkan menyapa saja tidak. Aku mulai merindukan sosoknya walaupun dia juga telah banyak menorehkan luka dihatiku. Tapi aku masih saja merindukannya.
Aku kembali berpapasan dengannya ketika sedang menaiki tangga menuju ke lantai 2 kampus. Dia kembali menatapku dengan tatapan yang sungguh tak bisa ku pahami. Sepertinya itu tatapan kekecewaan, khawatir, bahagia, sedih... dan masih banyak lagi.
"Kau ikut aku sekarang!!" Dia menarik tanganku kencang membawa ku turun dari tangga
"Lepaskan!! Sakit.." pekikku karena rasa sakit yang kuterima saat dia menarik tanganku
"Sorry... Tapi kau harus ikut aku sekarang.. Ada yang harus kita selesaikan" Dia berkata sambil terus berjalan dan menyuruhku mengikuti dibelakangnya
Aku berjalan mengikutinya dengan darah mengalir cepat memenuhi otakku dan degup jantung yang sangat keras. Aku masih takut jika ia akan kembali marah atas perubahanku. Tapi ia harus membulatkan tekat untuk tak goyah pada pendiriannya untuk berubah. Ia berjalan sambil terus meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. "Bismillah... " batinnya pelan.
Bersambung......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar